Pak Becak dan BLTnya

Posted on Posted in Jogokariyan Darussalam

Alkisah, di masjid kami, ada seorang tukang becak yang tiap pagi menumpang mandi. Sesungguhnya jika kita sekedar melihat dengan sisi efisiensi, Pak becak ini adalah titik kebocoran anggaran. Air masjid berkurang secara rutin melalui aktivitas mandi bapak ini.

Beruntung bagi kami, para takmir di masjid ini banyak mencontohkan mindset yang “beda.” Mindset yang memperbaiki yang telah ada. Dalam paket materi manajemen masjid yang disusun takmir kami, ada 4 prinsip manajemen masjid, salah satunya ialah Pelayanan.

Maka, prinsip ini mengubah persepsi akan pak Becak tadi. Yang mungkin dianggap beban, kini menjadi stakeholder yang berhak atas pelayanan. Dari perspektif yang ingin menjauhkan menjadi mendekatkan. Maksudnya, daripada menyuruh bapak tadi untuk berhenti mandi di masjid, bukankah lebih pas jika bapak tadi pelan-pelan diarahkan agar selain “meramaikan” kamar mandi masjid, meramaikan salat jamaah juga?

Hmm, dulu waktu saya masih kerap membuka akun twitter @jogokariyan pernah juga ada celetukan seseorang yang isinya kurang lebih: “apakah pantas, seseorang ke masjid hanya numpang di wc?” menanggapi tweet kami tentang masjid-masjid yang dikunci dan menyulitkan orang yang ingin numpang ke belakang.

Well, boleh saja anda berpikir demikian. Namun kami memilih cara pikir yang lain. Bagi kami, logika seperti itu adalah logika bagi diri kita pribadi jika ingin numpang di wc masjid. Akan tetapi ketika kita menjadi bagian dari takmir, logika kita mestinya berbeda. Sebab, bisa jadi masalah per-wc-an ini adalah jalan bagi masuknya hidayah ke hati masyarakat kita. Bukankah tujuan kita adalah mendekatkan masyarakat pada masjid, pada Allah?

Bukankah seringkali ada nasihat lain untuk kubu yang lain dalam satu situasi? Sebagaimana seorang pemberi hutang hendaknya meringankan beban yang berhutang, berhalus-halus dengan kondisinya, insyaf dengan kenyataan bahwa suatu saat bisa jadi ia yang meminjam uang. Namun di sisi lain nasihat bagi yang berhutang adalah memegang erat janji-janjinya, menepati tenggat pembayarannya, mencatat sebaik-baiknya seraya insyaf bahwa hutang dibawa sampai akhirat sana?

Kisah ini tak selesai di sini. Baru beberapa waktu yang lalu, saya dengar dari Pak Tejo, salah satu bendahara takmir kami, bahwa pada suatu waktu Pak Becak ini memberikan BLT, atau Bantuan Langsung Tunai miliknya kepada masjid. Bantuan langsung tunai, bagi seorang tukang becak bukanlah bantuan dengan besaran yang kecil. Namun, rasa senang bapak itu akan penerimaan Masjid terhadap dirinya, menggerakkan hati beliau untuk membelanjakan hartanya dalam infaq dan shadaqah.

***

Bersama semangat yang membara ini, Relawan Masjid Jogokariyan bekerja sama dengan YDSF serta Pemda Kulon Progo dan pemerintah kecamatan dan desa wonoboyo di temanggung bekerja sama untuk membangun fasilitas air bersih. Programnya adalah Pipanisasi mata air di wilayah kekeringan, pembangunan fasilitas mck umum gratis di area umum, serta air minum gratis. Juga di area umum.

“Membangun Masjid di tempat yang sudah ada masjidnya,” demikian kata Ust Jazir, “tidak bermanfaat!”

Sebab, masjid yang banyak di area berdekatan justru acapkali berbuah perpecahan. Selain itu, infaq yang terkumpul untuk masyarakat takkan efisien. Sebab, biaya pemeliharaan kini berkali lipat. Semakin tak tersisa alokasi untuk dakwah dan kesejahteraan masyarakat. Dan lagi, bukankah amat memalukan jika nanti tak ada lagi yang mampu mengurus masjid yang terlalu banyak ini hingga -na’udzubillah wa nastaghfirullah- terbengkalai.

Tentu membangun masjid adalah satu kebaikan, namun bangunlah di tempat yang masih membutuhkan. Jika di area itu telah ada masjid, jauh lebih bermanfaat apabila dana pembangunan masjid itu, digunakan untuk memasang instalasi air bersih di tempat yang kekeringan. Di mana masjid-masjidnya tak ada air untuk wudhu. Di mana masyarakat harus menunggu lebih dari sehari untuk mengisi satu ember penuh. Ini adalah problem riil, hidup mati dan kesejahteraan manusia yang mesti diatasi dengan solusi riil pula. Jika masalah ini dapat diatasi melalui jaringan masjid, bukankah nantinya masyarakat akan lebih dekat pula dengan masjid?

Satu program lain yang menarik selain instalasi air bersih, adalah pembangunan mck gratis. Ceritanya, di pasar-pasar tradisional, banyak sudut-sudut yang baunya -maaf- pesing. Sekilas fenomena ini menunjukkan rendahnya pengetahuan akan urgensi sanitasi yang dimiliki para pedagang kecil dan tukang-tukang becak. Terbayang bapak-bapak yang menghadap ke tembok sembari melangsungkan salah satu ciri makhluk hidup: ekskresi zat sisa metabolisme.

Tiadakah wc umum di sana? Ada, tapi mbayar 1000-3000. Kelihatannya kecil namun bayangkan bila seorang tukang becak dalam sehari buang air kecil 5 kali. Berapa yang ia butuhkan sebagai anggaran buang air hariannya? Sekitar 10.000 rupiah. 10.000 itu setara beras 1 kilo. Kira-kira tukang becak itu pilih mana? Wc berbayar tanpa beras 1 kg atau pojok tembok tapi bisa beli beras dan kebutuhan lain?

Kita seringkali memandang persoalan orang lain lewat kacamata sendiri, tanpa menyesuaikan ketebalan dompet agar sama persepsinya. Bahkan, kadang pemerintah juga tak kepikiran. Lebih parah lagi, yang dipikirkan justru pemasukan dari kontribusi wc umum itu.

Maka, muncullah ide untuk fasilitas mck gratis ini. Dan lagi, bukankah urusan kencing itu yang pertama dihisab di alam kubur?

Penandatanganan MOU Kerjasama Masjid Jogokariyan - YDSF - Kulonprogo untuk program tersebut
Penandatanganan MOU Kerjasama Masjid Jogokariyan – YDSF – Kulonprogo, atas berbagai program yang diselenggarakan mulai Februari ini

***
Terima kasih Pak Becak dengan BLTnya, bapak telah mengajarkan saya, bahwa mengubah cara pandang seringkali punya hasil signifikan. Terima kasih.

Sekedar perenungan dari inspirasi bapak-bapak senior kami di Masjid Jogokariyan.

2 thoughts on “Pak Becak dan BLTnya

  1. inspirasi yang sangat indah, semoga bermanfaat bagi kami pribadi. teruslah berkarya untuk kemandirian masjid dan ditiru oleh masjid lain.

  2. terima kasih memberi pelajaran dan inspirasi. semoga Allah memberikan rahmatnya kepada Jamaah dan penggerak Masjid Jogokarian. Semoga suatu saat bisa berkunjung dan silaturahmi dengan Jamaah Masjid Jogokarian. salam

Silahkan berkomentar tentang artikel kami.